Monday, 11 July 2011

PEMANFAATAN KULTUR ANTERA PADA TANAMAN PADI



Padi merupakan salah satu tanaman pangan penting di dunia termasuk Indonesia. Tingginya tingkat konsumsi nasi menyebabkan pemuliaan padi terus berkembang untuk meningkatkan kultivar unggul untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Berbagai metode terus dikembangkan para pemulia untuk mempercepat perakitan kultivar unggul. Metode yang telah dikenal selain metode konvensional antara lain teknik introgresi, Marker Assisted Selection (MAS), dan teknik kultur antera. Di antara berbagai metode yang ada, teknik kultur antera merupakan salah satu teknik yang dikenal cepat, mudah, dan murah sehingga menjadi salah satu alternatif yang sering digunakan oleh para pemulia padi.
Kultur antera merupakan induksi embriogenesis dari sel polen yang menghasilkan tanaman haploid. Melalui kultur antera, kombinasi karakter dari kedua tetua akan dimiliki oleh tanaman haploid, sehingga bila kromosomnya digandakan akan diperoleh tanaman haploid ganda (dihaploid) yang homosigos (galur murni). Teknik kultur antera diketahui dapat mempercepat proses perakitan kultivar baru. Pemuliaan tanaman padi konvensional umumnya membutuhkan 8 sampai 10 generasi untuk memproduksi galur murni dari populasi heterogen. Melalui pemanfaatan sistem haploid pada teknik kultur antera, hanya dibutuhkan satu sampai dua generasi saja untuk memperoleh galur-galur murni.
Percepatan perakitan kultivar baru melalui kultur antera dapat terjadi karena karakter tanaman haploid hasil penggandaan dalam galur yang sama adalah seragam (homosigos) dan tetap stabil dari generasi ke generasi. Hal ini membuat proses seleksi dapat dilakukan pada generasi awal. Seleksi terhadap karakter yang diinginkan dapat dilakukan langsung pada tanaman haploid ganda generasi pertama (DH1) atau generasi kedua (DH2) dan keturunan tanaman hasil seleksi akan memiliki penampilan yang sama dengan tetuanya.
Untuk dapat memperoleh tanaman hapoid ganda dengan sifat agronomis yang diinginkan melalui kultur antera, dibutuhkan tanaman dengan tingkat heterosigos tinggi, seperti F1 atau F2 yang telah diseleksi, sebagai sumber antera. Namun, terdapat permasalahan dalam kultur antera pada tanaman serealia seperti padi, jagung, dan gandum. Permasalahan yang terjadi adalah rendahnya daya regenerasi kultur antera yang dihasilkan. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya ditambahkan zat pengatur tumbuh poliamin, seperti putresin, untuk meningkatkan daya regenerasi tanaman hijau hasil kultur antera padi.

No comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget

kasih makan ikannya